TECHNOLOGY

Sepatu Pencegah Kelumpuhan Berhasil Dikembangkan Mahasiswa UGM

Jumat, 7 September 2018

Indonesiaplus.id – Sepatu pencegah kelumpuhan akibat kontraktur otot dan sendi engkel kaki berhasil dikembangkan oleh mahasiswa difabel Universitas Gadjah Mada (UGM), Muhammad Fahmi Husaen.

Sepatu tersebut diberi nama Achilles Physiotheraphy Orthosi (Aveo) dikembangkan Fahmi bersama dua rekannya, Widiyanto dari Program Studi Komputer dan Sistem Informasi serta Danar Aulia Husnan dari Program Studi Metrologi dan Instrumentasi Sekolah Vokasi UGM.

“Harapan kami sepatu ini bisa disempurnakan dan diproduksi secara masal untuk fisioterapi mandiri,” ucap Fahmi saat jumpa pers di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Jumat (7/9/2018).

Pengembangan sepatu itu telah mengantarkan Fahmi memboyong 2 medali emas Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Karsa Cipta pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) 2018 di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) kategori presentasi dan poster.

Bagi Fahmi, pengembangan alat itu berangkat dari pengalaman pribadinya sebagai penderita Duchne Muscular Distropy (DMD). Penyakit itu menyebabkan Fahmi tidak bisa berjalan sejak kelas 4 SD karena terjadi kekakuan otot dan sendi kaki.

“Berawal dari ide berdasasrkan pengalaman pribadi. Saya tidak pernah fisioterapi sehingga lama-lama menjadi kaku seperti sekarang ini. Dengan alat ini orang bisa melakukan pencegahan secara mandiri,” katanya.

Banyaknya masyarakat yang tidak melakukan fisioterapi saat terjadi gejala kelumpuhan antara lain karena ketidaktahuan atau terkendala biaya fisioterapi yang mahal. “Biaya fisioterapi yang standar ya lumayan mahal, apalagi kalau tidak menggunakan BPJS,” ucapnya.

Sepatu yang dikembangkan bersama dua rekannya itu mampu membantu masyarakat melakukan fisioterapi untuk mencegah kelumpuhan secara mandiri. Bahkan bisa digunakan oleh penderita stroke.

Alat yang menyesuaikan struktur telapak kaki manusia itu dilengkapi motor penggerak yang terhubung dengan telepon pintar melalui media bluethooth.

“Saat melakukan fisioterapi, pengguna bisa mengontrol pergerakan telapak kaki ke atas dan ke bawah melalui aplikasi. Bisa diatur dengan mode manual atau otomatis,” tandanya.

Usai diajukan untuk mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), Fahmi bersama tim melakukan penelitian dan pembuatan desain alat itu selama lima bulan hingga akhirnya diikutkan ajang Pimnas 2018.

Alat yang dikembangkan itu telah mendapatkan pengakuan sebagai alat yang layak difungsikan sebagai pengganti fisioterapi oleh para dokter fisioterapi Rumah Sakit Akademik UGM.

“Kami akan meningkatkan lagi keamanannya supaya bisa memenuhi standar medis. ‘Chasing’ akan kami kembangkan agar bisa lebih bagus lagi dan kami tambahkan sensor pendeteksi otot,” tutupnya.[Sam]

Related Articles

Back to top button